
Dukungan Sosial Untuk Meminimalisir Homesickness pada Remaja
Setiap individu akan bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan ini tidak hanya secara fisik akan tetapi juga di ikuti pertumbuhan dan perkembangan secara mental. Mereka akan melewati tahapan pertumbuhan secara bertahap. Tahapan ini berawal dari masa anak-anak sampai dewasa akhir. Remaja merupakan salah satu masa yang akan dilewati setiap individu. Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa awal. Remaja adalah fase perkembangan pada individu yang diawali dengan kematangan organ fisik sehingga mampu bereproduksi (Yusuf, 2019).
Kopanka menerangkan pada masa remaja terjadi dari usia 12 tahun sampai dengan 22 tahun. Sementara menurut Salzman menyebutkan bahwa remaja merupakan masa perubahan seorang individu dari sikap tergantung (kepada orang tua) menuju sikap kemandirian (Yusuf, 2019). Tak semua anak remaja mengalami hal atau nasib yang sama. Banyak dari mereka yang harus pergi ke perantauan karena satu atau dua hal lainnya. Salah satu faktornya adalah pendidikan. Banyak anak yang memilih untuk merantau agar terpenuhi Pendidikan yang di inginkan. Tak jarang mereka lebih memilih untuk berada di pondok pesantren untuk menyeimbangkan antara Pendidikan umum dan agama. Anak anak yang terbiasa dengan orang tua kemudian harus jauh, tak jarang mereka mengalami homesickness.
Keterpisahan anak dan keluarga merupakan salah satu perubahan situasi yang cukup berpengaruh bagi remaja yang mana dapat terjadi karena intensitas komunikasi antara anak dengan keluarga cenderung terbatas setelah merantau dibandingkan saat masih bersama-sama. Kondisi tersebut membuat remaja tidak dapat terlepas sepenuhnya dengan keluarga sehingga menyebabkan timbulnya homesickness (Borg & Cefai, 2014 dalam Yasmin et al., 2017).
Remaja dapat mengalami homesickness karena adanya ketidakmampuan atau keterbatasan mereka memahmi ciri khas individu dan lingkungan lain dan juga kesulitan bersosialisasi yang menimbulkan rasa rindu berat untuk kembali ke lingkungannya (Rassi, 2020). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari, didapatkan bahwa santri remaja yang mengalami homesickness biasanya menunjukan perilaku tidak suai atau bermasalah seperti menelepon lebih dari 1 kali sehari, menangis saat mengingat orang tua dan selalu memiliki dorongan untuk pulang ke rumah (M. Lestari, 2021).
Dalam mengalami homesickness ini dilakukan beberapa cara, salah satunya dengan adanya dukungan sosial. Menurut Sarason dukungan sosial merupakan kenyamanan fisik dan psikologis yang diberikan oleh orang lain (Amseke, 2018) dan merupakan perasaan sosial seorang individu yang dibutuhkan terus menerus dalam interaksinya dengan orang lain (Wahyuni, 2016). Dukungan sosial khususnya dari orang tua akan menciptakan kenyamanan dan mempengaruhi individu baik fisik maupun fisik (Karina & Sodik, 2018) seperti anak akan merasa dicintai, diperhatikan, dan dihargai (Maslihah, 2011).
Saat mengalami perasaan merindukan rumah atau homesickness tentulah keadaan psikis mengalami ketidakseimbangan, cenderung dipenuhi oleh perasaan negatif. Maka dari itu, sebuah dukungan sangat diperlukan. Terutama dukungan sosial, dukungan sosial adalah sebuah perasaan nyaman, dikhawatirkan, diperhatikan, dan perasaan terobati yang dilakukan seseorang atau sebuah kelompok kepada seorang individu menurut Sarafino & Smith,(dalam Lestari, M 2021). Dukungan sosial ini dapat didapatkan dari berbagai sumber dan cara, misalnya dukungan sosial dari keluarga, sahabat, teman dekat pasangan, bahkan dukungan sosial bisa didapatkan dari suatu organisasi ataupun kelompok. Menurut Goldsmith (dalam Lestari, M 2021) dukungan sosial juga diartikan sebagai sebuah harapan di dalam hubungan seorang individu yang dicirikan dengan rasa puas bersama teman teman, oarang tua, dan pengasuh.
Dukungan sosial ini bisa didapat dari teman, guru atau pengurus pondok. Dukungan sosial yang di berikan bisa berupa semangat, motivasi, maupun pendampingan. Dengan adanya dukungan sosial yang di berikan maka siswa tidak merasakan sendiri. Dalam artikel yang ditulis oleh Istanto dan Engry (2019) yang berjudul Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Homesickness Pada Mahasiswa Rantau Yang Berasal Dari Luar Pulau Jawa Di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Pakuwon City, disebutkan jika dukungan sosial mempengaruhi tingkat homesickness. Yang mana jika dukungan sosial ini semakin tinggi, maka tingkat homesickness yang dialami mahasiswa semakin rendah. Hal ini juga dibuktikan dengan wawancara dan pengamatan pada salah satu pondok modern di Jawa Tengah. Hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan adalah dengan di berikannya dukungan sosial secara emosional, materi dan motivasi maka homesickness yang terjadi sedikit. Berbeda dengan siswa yang dukungan sosialnya tidak cukup seperti kurangnya dukungan sosial dari teman sebaya atau orang tua, maka dia mengalami homesickness yang cukup tinggi. Hal ini di benarkan oleh penjelasan dari pengasuhan dan pengajaran bahwa siswa yang mendapat motivasi, pendampingan dan dukungan lainnya dari teman sebaya dan guru maupun pengajaran dapat membantu siswa lebih nyaman atau betah sehingga dapat meminimalisir homesickness yang terjadi pada siswa. Salah satu siswa yang berada kelas 8 menuturkan bahwa peran dukungan sosial teman sebaya dapat sangat membantu dalam beradaptasi. Siswa ini menjelaskan dengan dukungan sosial teman sebaya dapat membantu dia dalam merasakan kesepian dan mengurangi efek kangen rumah atau homesickness, sedangkan dukungan sosial dari pengasuhan atau pengajaran hanya sedikit atau pelengkap dalam mengatasi masalah ini karena pengasuhan atau pengajaran hanya memiliki sedikit waktu dengan siswa atau santri. Dari penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa Dengan adanya dukungan sosial dapat membantu dalam meminimalisir homesickness yang dialami siswa. Dukungan sosial yang peling berpengaruh adalah dukungan sosial dari teman sebaya karena merka banyak menghabiskan waktu Bersama, sedangan dukungan sosial dari pengasuh atau pengajaran hanya pelengkap dalam meminimalisir homesickness karena waktu yang diberikan pun tidak sebanyak dengan teman sebaya.
By : Tim BK MTs Al Irsyad Putri Tengaran
Kopanka menerangkan pada masa remaja terjadi dari usia 12 tahun sampai dengan 22 tahun. Sementara menurut Salzman menyebutkan bahwa remaja merupakan masa perubahan seorang individu dari sikap tergantung (kepada orang tua) menuju sikap kemandirian (Yusuf, 2019). Tak semua anak remaja mengalami hal atau nasib yang sama. Banyak dari mereka yang harus pergi ke perantauan karena satu atau dua hal lainnya. Salah satu faktornya adalah pendidikan. Banyak anak yang memilih untuk merantau agar terpenuhi Pendidikan yang di inginkan. Tak jarang mereka lebih memilih untuk berada di pondok pesantren untuk menyeimbangkan antara Pendidikan umum dan agama. Anak anak yang terbiasa dengan orang tua kemudian harus jauh, tak jarang mereka mengalami homesickness.
Keterpisahan anak dan keluarga merupakan salah satu perubahan situasi yang cukup berpengaruh bagi remaja yang mana dapat terjadi karena intensitas komunikasi antara anak dengan keluarga cenderung terbatas setelah merantau dibandingkan saat masih bersama-sama. Kondisi tersebut membuat remaja tidak dapat terlepas sepenuhnya dengan keluarga sehingga menyebabkan timbulnya homesickness (Borg & Cefai, 2014 dalam Yasmin et al., 2017).
Remaja dapat mengalami homesickness karena adanya ketidakmampuan atau keterbatasan mereka memahmi ciri khas individu dan lingkungan lain dan juga kesulitan bersosialisasi yang menimbulkan rasa rindu berat untuk kembali ke lingkungannya (Rassi, 2020). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lestari, didapatkan bahwa santri remaja yang mengalami homesickness biasanya menunjukan perilaku tidak suai atau bermasalah seperti menelepon lebih dari 1 kali sehari, menangis saat mengingat orang tua dan selalu memiliki dorongan untuk pulang ke rumah (M. Lestari, 2021).
Saat mengalami perasaan merindukan rumah atau homesickness tentulah keadaan psikis mengalami ketidakseimbangan, cenderung dipenuhi oleh perasaan negatif. Maka dari itu, sebuah dukungan sangat diperlukan. Terutama dukungan sosial, dukungan sosial adalah sebuah perasaan nyaman, dikhawatirkan, diperhatikan, dan perasaan terobati yang dilakukan seseorang atau sebuah kelompok kepada seorang individu menurut Sarafino & Smith,(dalam Lestari, M 2021). Dukungan sosial ini dapat didapatkan dari berbagai sumber dan cara, misalnya dukungan sosial dari keluarga, sahabat, teman dekat pasangan, bahkan dukungan sosial bisa didapatkan dari suatu organisasi ataupun kelompok. Menurut Goldsmith (dalam Lestari, M 2021) dukungan sosial juga diartikan sebagai sebuah harapan di dalam hubungan seorang individu yang dicirikan dengan rasa puas bersama teman teman, oarang tua, dan pengasuh.